Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan

Istigfar dapat membersihkan dosa



Ketika hujan turun, kaca mobil kita akan terbasahi dengan butiran-butiran air hujan yang jumlahnya mungkin jutaan. Dengan jutaan butiran air hujan itu kaca mobil kita menjadi buram, pandangan mata kita ke jalan jadi kabur. Namun demikian, kita pun secara refleks memegang tuas atau tombol penggerak wiper. Semakin deras hujan maka akan kita stel wiper dengan kecepatan yang lebih tinggi. Dengan wiper, maka guyuran butiran air hujan pun dapat tersapu dan tersingkirkan dari kaca mobil, sehingga kita pun dapat melihat jalan di depan kita. Jalan yang tadinya terlihat buram, sedikit dapat terlihat, sehingga kita pun dapat menjalankan mobil dengan baik.

Begitu juga dengan istigfar. Istigfar dapat membersihkan dosa-dosa kita dan sekaligus juga kita bisa menatap masa depan dengan lebih terang dan tenang, sehingga mempengaruhi cara berpikir kita. Semakin banyak beristigfar maka semakin bersihlah diri kita, sehingga kita pun semakin luas pandangan ke depan. Rasulullah SAW saja, manusia suci yang sudah dijamin masuk surga beristigfar lebih dari 70 kali dalam sehari (HR. Bukhari).

Bisa bayangkan kalau wiper itu tidak kita nyalakan. Tentunya mata kita tidak bisa melihat jalan ke depan dengan jelas karena terhalang oleh butiran air hujan. Begitu pula dengan istigfar. Bagaimana kalau seandainya istigfar tidak pernah kita kerjakan, maka tentunya makin tertutuplah mata hati kita. Semakin kita lupa istigfar, maka semakin bertumpuklah dosa-dosa kita. Dan yang lebih dari itu adalah pandangan kita semakin tertutup oleh nafsu kita sendiri. Sehingga kadang-kadang kita pun susah berpikir dengan jernih. Dengan tidak kita nyalakan wiper, sementara mobil tetap kita jalankan maka besar kemungkinan kita akan menabrak semua yang ada di depan dan di kanan kiri jalan. Pohon-pohon akan tertabrak, begitu juga warung-warung di pinggir jalan, ataupun pengguna jalan yang lain pun bisa tertabrak. Singkatnya, orang lain di pinggir jalan yang tidak bersalah bisa kena getahnya dengan ulah kita itu. Bisa banyak korban berjatuhan karena kesalahan kita.

Jasa Ibu


Foto: Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ? 
Sudah pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i- l-a-n.
Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, Tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan: p-o-s-i-t-i- f.

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya : menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedihkah atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika itu mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna, ketika mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran.

Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar. Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak.

Si kecil baru saja berucap "Ma?" segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka.

Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan. "Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil.

Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuk dirinya sendiri dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil.

Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak. Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Beli susu anak; 2. Uang sekolah anak. Nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.

Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia pun terus mendongeng. 

Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, "sudah makan belum?" tak lupa terlontar. 

saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu, sekarang sudah menjadi orang dewasa yang bisa saja membeli makan siangnya sendiri di Sekolahnya.

Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar, buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"

Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, "Bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian". Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih & shalihat sejak kecil," ujarnya.

Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, Ibulah sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu "cinta". Sekolah yang hanya punya satu guru yaitu "pecinta". Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: "anakku tercinta".

Source: ebook -kumpulan cerita motivasi-

::Silahkan bagikan kesahabat yang lain mudah-mudahan bermanfaat. 

>>Lihat laman asli melalui PC>> http://misleim-mizy.blogspot.com/2011/09/sangat-mengharukan-jasa-ibu-untuk-kita.html <<Dan baca cerita menarik lainnya.

>>Lihat laman asli melalui PONSEL>> http://misleim-mizy.blogspot.com/2011/09/sangat-mengharukan-jasa-ibu-untuk-kita.html?m=1 <<Dan baca cerita menarik lainnya.




Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah ?
Sudah pasti jawabannya adalah : k-e-h-a-m-i- l-a-n.
Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, Seberat apa pun langkah yang mesti diayun, Seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, Tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan: p-o-s-i-t-i- f.

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya : menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedihkah atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika itu mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna, ketika mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran.

Menangis Memadamkan Api Neraka ?


Dua ilmuwan pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Kedua peneliti tersebut berasal dari Jerman dan Amerika Serikat. Hasil penelitian kedua peneliti itu menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe berbeda dengan air mata yang mengalir karena kecewa dan sedih.

Air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe ternyata tidak mengandung zat yang berbahaya. Sedangkan, air mata yang mengalir karena rasa kecewa atau sedih disimpulkan mengandung toksin, atau racun. Kedua peneliti itu pun merekomendasikan agar orang-orang yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air matanya. Sebab, jika air mata kesedihan atau kekecewaan itu tidak dikeluarkan, akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.
Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas-puasnya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis. Orang-orang yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ INI ADALAH REALITI HIDUP Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ




Foto: ≈]¤[ Kisah Sedih Seorang Ibu ]¤[≈
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ INI ADALAH REALITI HIDUP Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ

Ada kaum wanita menempuh kepayahan hidup di awal remaja mereka dan berubah kepada lebih baik setelah dia bekerja dan berumah tangga.

Ada pula yang susah ketika awal perkahwinan dan bahagia akhirnya setelah anak semakin besar.

Ada juga yang susah di penghujung hayat mereka. Inilah yang menyedihkan.

"Nasib saya tidak seperti ibu ibu di atas tadi, boleh saya katakan hidup saya susah, tertekan jiwa, hati dan perasaan sejak dari saya berada di zaman remaja hinggalah setelah saya bercucu sekarang."

"Saya rasa mungkin saya salah seorang ibu malang di dunia ini, namun saya taklah kesal sudah nasib saya. Ini kehendak Allah saya redha, tetapi saya kesal sikap anak menantu yang membuatkan hati saya hancur seperti kaca terhempas ke batu,''

Demikian cerita Puan Hamizah dalam surat pendek yang dihantarkannya dan ketika kami berbual petang Isnin lalu. Sebenarnya sudah beberapa kali kami berbual, tetapi perbualan kami terputus-putus, kerana gangguan cucu menangis dan beliau takut bercakap terlalu lama di telefon bimbang anak menantunya tidak dapat menghubunginya di rumah kerana telefon sedang digunakan. Jadi kami berbual kira-kira 6 minit setiap panggilan. Hinggalah saya faham perasaan hati beliau yang terluka selama ini.

"Dah lama sangat saya nak luahkan isi hati saya ini, tetapi tak ada orang yang boleh saya percayai, lagi pun kehidupan saya yang terkurung tidak mengizinkan saya berjumpa dengan ramai orang. Nak cakap dengan jiran takut anak terasa malu. Jadi saya simpan semuanya dalam hati."

"Tetapi apa pun kesimpulan masalah saya ini semuanya berpunca kerana kemiskinan dan kesusahan hidup saya. Kalau hidup kita miskin, anak menantu pun tak suka, malah menganggap kita menyusahkan hidup mereka sahaja. Itulah nasib saya."

"Saya ibu tunggal, diceraikan kerana suami saya nak kahwin lagi, bakal isteri barunya tak mahu bermadu, jadi tinggallah saya bersama anak-anak seramai empat orang ketika itu masih dalam sekolah rendah dan dua sekolah menengah. Kerana anak pertama dan kedua perempuan agak pandai sikit dapatlah dia belajar ke sekolah menengah sains berasrama. Walaupun duduk asrama saya terpaksa hantar duit sebab belanja mereka agak tinggi, macam-macam benda nak dibeli"

"Saya bekerja keras untuk mencukupkan belanja mereka di samping dua orang lagi yang masih bersekolah rendah. Ayah mereka setelah menceraikan saya nafkah anak-anak langsung tak bagi. Nak jengok anak pun takut isteri baru marah. Puas saya pergi pejabat dan turun naik mahkamah syariah tapi gagal dapatkan nafkah. Buat habis duit tambang aja, terpaksa cuti akhirnya saya buat keputusan biarlah dia berseronok dengan kehidupan barunya dan jawablah di akhirat nanti".

"Ketika bercerai saya tak ada rumah, menyewa rumah kecil di kawasan dekat KL memang mudah saya pergi kerja, tapi sewa rumahnya tinggi. Selain bekerja saya jual kain potong yang orang hantar minta saya jualkan, paling tidak dapat juga anak-anak berganti pakaian yang mereka berikan. Biarpun pakaian terpakai tetapi masih baru, senanglah kami berpakaian. Kalau besar saya kecilkan."

``Dengan izin Allah anak yang tua sambung belajar buat diploma dua tahun kemudian yang kedua pulak ikut sama. Harapan saya bila mereka bekerja nanti senanglah sikit hidup saya.
Sayangnya saya cuma berharap, Allah yang menentukan".

"Tak sampai enam bulan bekerja dia nak kahwin. Tersentak juga rasa hati, cepat sangat anak saya laku. Walaupun saya minta dia tangguhkan dulu, sebab tak berduit buat kenduri, tetapi yang lelaki mendesak. Anak saya Izah terpaksa ikut. ``Kenduri kami ala kadar saja. Kata Izah bakal suaminya tak suka buat majlis panggil ramai orang, membazir aja. Saya ikutkan memang pun saya tak berduit lagipun hantarannya tak tinggi cukup buat kenduri saja. Selesai majlis cuma dua malam menantu saya tidur di rumah, mereka terus pindah rumah lain".

"Dua hari lepas mereka pindah, ketika saya sibuk mengira hutang belum selesai Izah datang ke rumah bersama suaminya, bertanyakan mana set bilik pengantin sebab dia nak bawa ke rumah mereka. Izah tahu saya cuma beli katil dan tilam, almari pakaian dan almari solek pakai yang lama lagi pun rumah sewa kami kecil sangat mana nak muat. Tetapi sebenarnya saya tak mampu nak beli semua benda itu. Kerana tak ada set tersebut menantu saya minta beli yang baru. Hutang lagi. Izah tak berani bantah walaupun dia tahu saya tak berduit. Hutang lama tak selesai hutang baru bertambah. Namun dalam hati kecil saya mengharapkan kalau Izah bagi saya RM100 setiap bulan seperti sebelum dia kahwin, mungkin hutang itu boleh saya selesaikan. Tetapi sejak Izah kahwin dia tak beri saya duit langsung".

"Waktu itu memang saya susah, mana nak bayar hutang, tiga orang anak lagi tengah belajar, seorang peringkat akhir pengajiannya, sementara seorang lagi nak ambil SPM, tetapi pada siapa saya nak mengadu, saudara mara bukan orang kaya, mereka pun duduk kampung harapkan anak-anak. Namun mereka masih bernasib baik daripada saya kerana ada anak-anak yang menolong. Berbanding saya...".

"Kerana terdesak saya minta Izah bantu bayarkan duit pereksa adiknya, tetapi kata Izah dia tak ada duit, semua duit gajinya suaminya pegang. Kata Izah suaminya kata lepas kahwin dia mesti ikut perentah suami bukan emak lagi, syurga bawah tapak kaki suami. Lagi pun dia nak simpan duit beli kereta baru dan rumah. Hendak tak nak saya terpaksa tebalkan muka pinjam pada kawan sekerja RM100 janji bayar dua bulan. Ketika Imah habis belajar saya menyimpan hajat mungkin bila dia kerja nanti dia boleh membantu saya. Imah pulak lambat dapat kerja, dia terpaksa kerja sementara di kilang, memang dia ada bantu saya cuma beberapa bulan sebelum dapat kerja yang memaksanya pindah duduk nun di Selatan".

"Hati saya suka dalam duka. Gembira anak dapat kerja tapi sedih dia terpaksa tinggalkan saya. Di tempat baru dia terpaksa sewa rumah, jadi untuk tiga bulan pertama memang dia tak kirimkan saya duit sedikit pun. Sebaliknya saya terpaksa meminjam bagi dia bekalan sedikit duit semasa pindah dulu. Sekali lagi kawan jadi mangsa. Tapi saya bayar balik semuanya walaupun berdikit-dikit".

"Anak kedua pun cepat jodoh, tak sampai setahun bekerja dia kahwin orang sana. Saya buat kenduri kecil, nak panggil ramai orang kita perlu belanja besar. Asalkan mereka selamat kahwin sudah cukup. Ayah mereka datang untuk izinkan nikah saja. Tak ada satu sen pun dia keluarkan duit belanja".

"Kalau orang lain gembira anak perempuan mereka cepat kahwin tapi orang susah macam saya cuma tangis mengiringi mereka. Sedih dan takut apakah Imah juga ikut jejak kakaknya serahkan semua duit gajinya kepada suami. Kalau saya orang senang memang saya tak harap duit mereka, tetapi susah merekalah harapan saya".

"Dua orang anak lelaki saya Ismail dan Ishak faham masalah saya. Ismail tolak tawaran buat diploma walaupun dia layak, dia bekerja di kilang, katanya nak tolong saya dan adiknya habiskan belajar sampai tingkatan lima".

"Saya menangis mengenangkan pengorbanannya, namun saya terus memujuk supaya dia terus belajar, biarlah saya susah bekerja dan berhutang, asalkan masa depannya terjamin, tetapi dia menolak, dia terus kerja kilang. Katanya dia akan sambung belajar kalau ada rezeki. Tapi sampai kini dia masih kerja kilang dengan pendapatan cukup makan saja. Anak keempat saya pun berakhir dengan kerja kilang".

"Saya cukup sedih, tetapi apakan daya saya tidak ada kemampuan untuk mendesak mereka terus belajar kerana saya pun tak berduit. Ayah mereka tak ambil peduli selepas dia dapat empat orang lagi anak dengan isteri baru dan masil kecil- kecil. Peristiwa itu berlaku kira-kira 10 tahun lalu, kini badan saya semakin tua, sudah tak berdaya nak bekerja lagi. Untuk menampung hidup saya jaga anak orang yang dihantar ke rumah saya. Tetapi bila Izah tak ada pembantu dia suruh saya duduk dengan dia jaga anak-anaknya. Sekarang dah lebih 6 tahun".

"Saya rasa saya adalah pembantu rumahnya, tapi tak bergaji, dapat makan dapat tempat tidur. Tapi masalahnya saya dah berusia dekat 50 tahun, badan saya sudah tak kuat lagi. Kerana hidup susah sejak muda, saya memang kelihatan tua. Saya fikirkan bila dia ambil saya tinggal di rumahnya dapatlah saya ke surau dan buat amal ibadah dengan lebih selesa, malangnya sembahyang terawih pun jarang-jarang dapat pergi, di rumah aja menguruskan anak cucu".

"Bila sendirian saya selalu menangis mengenangkan nasib. Dari kecil anak saya besarkan, berhutang keliling pinggang untuk menyekolahkan mereka, tapi bila dah senang suami dia kutip hasil. Kalaulah anak saya menjaga saya, agaknya tak sampai umur saya 65 pasti saya dah mati. Cuma 15 tahun sahaja dia menjaga saya. Tetapi kalau dia ada umur dia akan hidup bersama suaminya lebih 42 tahun iaitu sejak 23 tahun umur dia mula bekerja hinggalah 65 tahun. Jadi apalah salahnya dia bantu hidup saya yang susah ini dan tolong anak-anaknya melanjutkan pelajaran. Memang tugas ibu membesarkan anak-anak dan menyekolahkan mereka, dan tak boleh minta pembalasan, itu benar, tetapi saya bukan orang senang saya susah".

"Apa yang menyedihkan saya ialah hidup dua orang anak lelaki saya sampai bila dia mesti bekerja jadi pekerja kilang. Bukan saya hina pekerja kilang, tetapi mereka pandai, mereka dapat tawaran sambung belajar ke IPTA. Apa salahnya kakak-kakak mereka menghulurkan bantuan kerana dia tahu saya susah dan ayahnya tak membantu dan tak pernah beri nafkah. Salahkah saya meminta bantuan. Mengapa menantu saya terlalu berkira tentang duit dan membuat saya macam hamba abdi, kalau saya jadi pembantu rumah kepada orang lain tentu saya dapat imbuhan, tetapi duduk di rumah anak sendiri saya benar-benar terhina. Saya perlukan masa sendiri untuk membuat amal ibadah yang banyak saya tinggalkan semasa bekerja dahulu. Tetapi semuanya tersekat kerana menguruskan 4 orang cucu pergi sekolah rendah, sekolah agama, tadika dan sebagainya".

"Sudahlah hidup saya susah semasa membesarkan anak-anak dahulu, dah tua begini pun saya terpaksa jaga cucu. Saya rasa terhina kerana duduki menumpang di rumah mereka. Kerana saya tidak punya apa-apa, miskin dan tak berharta saya dibuat macam hamba. Nak berbual dengan anak pun terhad, menantu sentiasa mengawasi, apa lagi kalau nak berbual dengan jiran tetangga".

"Saya merasa amat sedih terutama bila besan atau saudara mara menantu saya datang ke rumah, saya tunggang langgang di dapur memasak, mereka cuma berbual dan menunggu hidangan terhidang di meja saya betul-betul terhina".

"Lagi sedih bila menantu bising pasal bil elektrik dan air meningkat. Sabun pencuci cepat habis pun merunsingkan fikirannya. Menantu saya terlalu berkira pasal duit, duit, duit itu. Entah bila penderitaan saya akan berakhir. Saya sentiasa berdoa supaya saya tidak terlantar sakit terlalu lama sebelum mati. Kerana saya tak tahu siapa nak jaga saya nanti.''

Demikian cerita Hamizah dengan nada suara tersekat-sekat. Saya hanya tumpang sedih apakah zaman ini masih ada anak-anak seperti ini, Benarlah kata Pn Hamizah, kalau diri tak berduit bukan sahaja dihina orang, anak-anak sendiri pun benci dan tak hormatkan kita lagi. Agaknya mereka terlalu hormatkan suami kerana syurga di bawah tapak kaki suami. Ibu tak berguna lagi. Tapi kata seorang teman suami boleh berganti kalau jodoh dah tiada, tapi ibu itulah satu-satunya di dunia dan di akhirat.

Entahlah! Tapi sayangilah ibu semasa dia masih ada lagi. Kerana doa ibu membawa berkat.

===TANDAI PHOTO INI UNTUK BERBAGI===

.Ada kaum wanita menempuh kepayahan hidup di awal remaja mereka dan berubah kepada lebih baik setelah dia bekerja dan berumah tangga.

Ada pula yang susah ketika awal perkahwinan dan bahagia akhirnya setelah anak semakin besar.

Ada juga yang susah di penghujung hayat mereka. Inilah yang menyedihkan.

"Nasib saya tidak seperti ibu ibu di atas tadi, boleh saya katakan hidup saya susah, tertekan jiwa, hati dan perasaan sejak dari saya berada di zaman remaja hinggalah setelah saya bercucu sekarang."

"Saya rasa mungkin saya salah seorang ibu malang di dunia ini, namun saya taklah kesal sudah nasib saya. Ini kehendak Allah saya redha, tetapi saya kesal sikap anak menantu yang membuatkan hati saya hancur seperti kaca terhempas ke batu,''

Demikian cerita Puan Hamizah dalam surat pendek yang dihantarkannya dan ketika kami berbual petang Isnin lalu. Sebenarnya sudah beberapa kali kami berbual, tetapi perbualan kami terputus-putus, kerana gangguan cucu menangis dan beliau takut bercakap terlalu lama di telefon bimbang anak menantunya tidak dapat menghubunginya di rumah kerana telefon sedang digunakan. Jadi kami berbual kira-kira 6 minit setiap panggilan. Hinggalah saya faham perasaan hati beliau yang terluka selama ini.

"Dah lama sangat saya nak luahkan isi hati saya ini, tetapi tak ada orang yang boleh saya percayai, lagi pun kehidupan saya yang terkurung tidak mengizinkan saya berjumpa dengan ramai orang. Nak cakap dengan jiran takut anak terasa malu. Jadi saya simpan semuanya dalam hati."

KISAH SEORANG IBU & PENGORBANANNYA

Foto: ::::: KISAH SEORANG IBU & PENGORBANANNYA :::::


ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kimpoi lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.

Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkimpoian mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan tercemar, orang² tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan².

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. "Walaupun ia kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua", kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan² akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki². Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian² tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya.

Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya...

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba² sakit keras. Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari obat² herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli obat² herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba² mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu.

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama² menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau" (terjemahannya "Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik").

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.

Hari² mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. "Apakah kamu punya uang?" tanya sang pemilik toko. "Tidak sekarang, nanti saya akan punya", kata sang anak dengan serius.

Ternyata, bulan depan sang anak benar² muncul untuk membeli jam tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main².

Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya "Dari mana kamu mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan ?". "Saya tidak mencuri, kakek.

Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia akan marah" kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba² tersadar, dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.

"Apakah kamu mencuri, Nak?" Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.

Setelah ditanya berkali² tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri. "Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?" kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. "Ia sebenarnya anak yang baik", kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan familinya.

Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba² sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

"Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya". Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba² muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu."Maafkan saya, Nak."

"Tidak Bu, saya yang bersalah".

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.

Ketika sang ibu dan anaknya berjalan² ke kota , dalam sebuah kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat. Satu²nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling kota , bermain² di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau", lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.

"Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak" kata ibu. "Tidak apa² Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama² dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu", kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta² ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang anak menolak. "Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu", teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata "Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu." "Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi", sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu² "Kalau ibu saying padaku, bawalah saya pergi, Bu". Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan "Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini", ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya meronta² dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu²nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga.

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong.

Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tsb, menangis "Ibu benar² tidak menginginkan saya lagi."

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.

Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba² ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan² imut anaknya dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba² ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi ke sebuah kuil di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada tuhan yang Maha welas asih. Tuhan pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.

Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling² jatuh ke bawah.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana², tetapi hasilnya nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah "Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?"

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu "Shi Sang Ci You Mama Hau" dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru "Ibu? Ini saya ibu".

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba² muka sang anak, lalu bertanya,

"Apakah kamu ??..(nama anak itu)?" "Benar bu, saya adalah anak ibu?".

Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi.

Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.

Kisah ini untuk kita renungkan bersama-sama :
Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Ya ALLAH, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang² disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun.

Tidak diragukan lagi "Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini". 

==>>

ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kimpoi lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

MAAF KAN AKU AYAH

Betapa bahagianya aku menjadi anak yg paling di sayang ayah dan ibu yg sering membawaku jalan2 ke alun2 kota dan membelikan mainan untuku..

TAPI...
ntah kenapa, ibu mendadak pergi meninggalkan kita, hanya pesan terakhir yg ku dapat ibu pergi mencari uang untuk membelikan sepeda baru untuku...

Ayah...
kenapa beberapa hari ini ayah sering marah-marah,
Walaupun itu kesalahan yg amat kecil ,apa karena dengar kabar ibu yg tidak baik sehingga ayah menjadi gampang marah2 padaku..

Hari itu... aku bermain sepak bola dengan teman-temanku di depan rumah,, tanpa sengaja bola itu memecahkan kaca rumah ku..
Ku lihat kau lari kebelakang membawa sebuah rantai yg sering kau pakai merantai becakmu...tanpa melawan dan hanya tangis,, kau tak hiraukan aku... kau rantai kaki ku di kamar,sebagai hukuman kenakalanku,,

Andai kita tahu ini Ramadhan terakhir

Foto: ~~~Andai kita tahu ini Ramadhan terakhir~~~

masih ada kesempatan untuk melaksanakan sholat di awal waktu
sholat yang dikerjakan.. .sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatumemperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...]

andai kita tahu ini Ramadhan terakhir.. ..

tidak akan kita sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran senantiasa kita bacakan dan perdengarkan kehadapan MU ...ya Rabb

andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..

setiap malam kita sibukkan dengan
bertarawih.. .berqiamullail...bertahajjud. ..
mengadu...merintih. ..meminta belas kasih
"sesungguhnya aku berharap untuk ke syurga-MU
dan....aku tak sanggup untuk ke neraka-MU"

andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..

kita akan selalu bersama dengan mereka yang tersayang
kita isi Ramadhan dengan hal yang bermanfaat
kita buru...kita cari..suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan


andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..

kita bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiapkan diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman

Duhai Ilahi...

andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah Ramadhan ini paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu ...Ya Ilahi
yang bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

Namun teman....

tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi diri kita
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha...bersiap-siap ...bersedia ...meminta belas-NYA

Marhaban ya Ramadhan,

Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do'a kita di ijabah,

Sebelum cahaya surga padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, Sebelum Ramadhan datang,

dan untuk menambah khusyu-nya ibadah dibulan yang suci - yang penuh dengan berkah serta ampunan ini, saya pribadi ingin menghaturkan PERMOHONAN MAAF lahir dan bathin,

Semoga kita semua senantiasa berada dalam Rahmat dan Hidayah ALLAH SWT serta selalu sehat dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim, MARHABAN YA RAMADHAN.

===TANDAI PHOTO INI UNTUK BERBAGI===

.

masih ada kesempatan untuk melaksanakan sholat di awal waktu
sholat yang dikerjakan.. .sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatumemperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...]

andai kita tahu ini Ramadhan terakhir.. ..

tidak akan kita sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran senantiasa kita bacakan dan perdengarkan kehadapan MU ...ya Rabb

andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..

setiap malam kita sibukkan dengan
bertarawih.. .berqiamullail...bertahajjud. ..
mengadu...merintih. ..meminta belas kasih
"sesungguhnya aku berharap untuk ke syurga-MU
dan....aku tak sanggup untuk ke neraka-MU"

andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..

kita akan selalu bersama dengan mereka yang tersayang
kita isi Ramadhan dengan hal yang bermanfaat
kita buru...kita cari..suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan


andai kita tahu ini Ramadhan terakhir..

kita bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiapkan diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman

Duhai Ilahi...

andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah Ramadhan ini paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu ...Ya Ilahi
yang bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

Namun teman....

tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi diri kita
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha...bersiap-siap ...bersedia ...meminta belas-NYA

KENAPA KAU BUANG AKU IBU

Foto: ::::: KENAPA KAU BUANG AKU IBU :::::

3 Tahun umurku waktu itu,masih belum paham apa yang terjadi,yang ku tahu ibuku membawa aku ke seorang wanita yang ada di luar pulau,beberapa hari terlihat aku terbangun dari tidurku tak ku dapati kau di sisiku lagi,aku bingung mencari ke mana kamu,ternyata baru ku tau kau telah memberikan aku ke pada orang lain,apa salahku bu..sehingga kau tak sudi merawatku.

21 tahun sudah,kini aku paham kenapa kau membuangku,kau ingin menikah dengan seorang pejabat tp kau mengaku sebagai janda tampa anak,menangis hati ini bu,pedih perih jiwa ini jika ingat itu semua,kini aku sudah sukses menjadi seorang perwira negara dengan info yg ku dapat dari ibu angkatku aku berniat mencari mu..

Akhir nya aku pun sampai d kotamu,kaki ini begitu lunglai saat menginjakan kaki di depan rumahmu,untuk mengetuk pintu rumahmu
hingga pintu pun terbuka "cari siapa ya ..?? " kata laki laki yang ada dalam rumah itu,dengan hati berdebar aku pun pura2 mencari kos2an untuk tinggal sementara ku.
Ya ALLAH ingin aku menangis seketika di saat memasuki ruang tamu melihat foto keluarga ibuku. masih teringat masa muda dulu ibuku yang berparas cntik,dng berpura pura ingin numpang semalam saja karena dr luar pulau, suami ibuku pun mengijinkanku tinggal di rumahnya untuk menginap,

Hingga saat kami mengobrol ku sengaja bertanya soal putra dan putrinya ..lagi lagi air mata ini menetes karena ibuku gak pernah menceritakan tentang aku pada suaminya.

Ibu..tauhkan satu hal yang sangat menyedikan saat ku dengar jika beliau dalam keadaan sakit,udah beberapa bulan ini ibu kandung ku di rawat di rumah sakit gara2 gagal ginjal.dengan berniat ingin menjenguk suami ibuku pun mengantar kan aku ke rumah sakit.sampai di sebuah kamar ku lihat beliau terbaring lemah ingin aku segera memeluk nya tp itu tidak mungkin karena beliu tak mengenalku..dengan senyumnya dia menyapaku akhirnya kami pun mengobrol cerita kehidupan kami,hingga saat ku pancing cerita masa lalu ibuku pun bercerita kalau dia mempunyai seorang putra dengan suami yang pertama tp sayang putranya meninggal.
Ya allah aku hanya bisa membendung air mata ini,kau berikan diriku pada orang lain dan semnjak itu pula aku kau anggap sudah meninggal,sungguh aku kecewa ingin aku mengatakan yang sejujurnya kalau aku adalah putra kandungmu,tp buat apa kau tak pernah mengakui keberadaanku.

Bagaimanapun kau ibuku,ibuku yang melahirkan aku dengan ku korbankan ginjalku untukmu ku harap suatu saat kau teringat diriku dan mencariku untuk mengakui dan memanggilku sebgai "ANAKMU"
Aku tunggu bu saat saat itu..walaupun tak pernah kau akui aku,tapi bagaimanapun kau tetap ibuku.dengan badan yang lemas habis oprasi pengangkatan ginjal aku pun pergi tampa berpamitan padamu,hanya sepenggal pesan ku titipkan pada dokter untuk di sampaiakan kepadamu jika pendonor ginjal untukmu adalah ARDYANSYAH anak mu.selamat tinggal ibu ku tunggu peluk hangatmu untuku.

Nib: kehidupan sungguh aneh,apapun ada cerita dan kejadian di sekeliling kita.

===TANDAI PHOTO INI UNTUK BERBAGI===

.

3 Tahun umurku waktu itu,masih belum paham apa yang terjadi,yang ku tahu ibuku membawa aku ke seorang wanita yang ada di luar pulau,beberapa hari terlihat aku terbangun dari tidurku tak ku dapati kau di sisiku lagi,aku bingung mencari ke mana kamu,ternyata baru ku tau kau telah memberikan aku ke pada orang lain,apa salahku bu..sehingga kau tak sudi merawatku.

21 tahun sudah,kini aku paham kenapa kau membuangku,kau ingin menikah dengan seorang pejabat tp kau mengaku sebagai janda tampa anak,menangis hati ini bu,pedih perih jiwa ini jika ingat itu semua,kini aku sudah sukses menjadi seorang perwira negara dengan info yg ku dapat dari ibu angkatku aku berniat mencari mu..

Bersyukur itu Menenangkan dan Mengusir Keluh Kesah


Sebelum engkau melangkah terlalu jauh dari negerimu
Sebelum engkau memiliki cita-cita besar
Sebelum engkau terlalu angkuh
Sebelum engkau terlalu banyak mengeluh



Kisah tentang "AYAH"


terkadang, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, di luar kota atau luar bahkan merantau ke negeri, yang sedang bersekolah ataupun kuliah, saat jauh dari kedua orang tuanya..

kadang lebih sering rindu dgn Ibunya.. Lalu bagaimana dengan Ayahnya..?

Terkadang Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayahmu-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan keci Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda..
Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Ayah bilang : "Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya" (Dgn Harapan Penuh Khwatir)

Siapa Yang Harus Aku Taati





Seorang gadis kecil baru saja pulang dari sekolah. Sesampainya dirumah, Sang Ibu melihatnya sedang bersedih. Dia pun bertanya kepada anakya tentang sebab kesedihannya. Gadis kecil itu pun menjawab: “Bu, tadi bu guru mengancamku akan dikeluarkan dari sekolah, karena pakaian panjang yang aku kenakan”. “Tetapi pakaian ini adalah pakaian yang dicintai Alloh, anakku!”.

“Benar bu, tapi Ibu guru tidak suka”.

“Baik nak, meskipun bu guru tidak suka, tetapi Alloh menyukainya”. Jadi, siapakah yang akan kamu ta’ati?

Akankah kamu taat kepada Alloh yang telah menciptakanmu, membentuk parasmu dan memberi nikmat kepadamu? Atau kamu akan taat kepada makhluk yang tidak bisa mendatangkan manfa’at kepadamu?”.

Alloh lah yang aku taati, bu !

Bagus nak. Kamu benar !

Seuntai Nasehat Untuk Renungan





"..Fadzakkir in nafa'atidz zdikro.."

sahabat...
tulisan ini tidak ada maksud selain untuk mengingatkan kita..
tidak bermaksud mengajari apalagi menggurui ..
karena pada hakikatnya kita semua sudah tau..
tapi memang sifatnya manusia itu sering lupa dan suka lalai..
sehingga ia sering lupa pada hal yang seharusnya selalu ia ingat..
yaitu..
PENGHANCUR KENIKMATAN....
atau lebih akrab dengan sebutan:
"KEMATIAN"

Dibalik kisah seorang ayah


 


Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Sampaikanlah kepada para wanita

 


1. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.
2. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 lelaki soleh.
3. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk daripada 1,000 lelaki yang jahat.
4. 2 rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.
5. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (susu badan) akan dapat satu pahala daripada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.
6. Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad
7. Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak selesa kerana menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.
8. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat isterinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.
9. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 maalaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.
10. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.
11. Wanita yang memerah susu binatang dengan "bismillah" akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.
12. Wanita yang menguli tepung gandum dengan bismillah", Allah akan berkatkan rezekinya.
13. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.
14. Wanita yang menjaga solat, puasa dan taat pada suami, Allah akan mengizinkannya untuk memasuki syurga dari mana-mana pintu yang dia suka.
15. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.
16. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.
17. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.
18. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.
19. Jika wanita melayan suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.
20. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun), maka maalaikat-maalaikat di langit akan khabarkan berita bahawa syurga wajib baginya.
21. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.
22. Jika wanita memicit suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memicit suami bila disuruh akan mendapat pahala tola perak.
23. Wanita yang meninggal dunia dengan keredhaan suaminya akan memasuki syurga.
24. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.

Hadis nabi mengenai wanita:
Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki.Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".

Wallahua'lam..
Ya Allah, adakah aku ini hamba-MU yang layak untuk merindui syurgaMu.Tak t'daya rasanya menuju ke sana lantaran godaan syaitan & hawa nafsu.

Jangan salahkan keadaan


Apakah benar jika ada yang berkata bahwa karakter dan jiwa kita terbentuk karena pengaruh lingkungan sekitar kita? Lalu apakah saya harus melarikan diri dan menghindar dari kehidupan yang saat ini telah saya jalani untuk menjaga jiwa dan perasaan agar bisa lebih mudah dalam mencapai tujuan? Bukannya tidak mensyukuri keadaan, namun saya rasa lingkungan ini seakan menghalangi saya untuk maju ke depan.
Terlalu banyak konflik dan kata-kata negatif yang kulihat, kudengar dan kualami. Itu membuat semangatku menjadi turun kembali disaat kemarin semangat itu sudah menggebu-nggebu, itulah yang saya anggap sebagai penggangu dalam hidup saya. Saat lingkungan yang ada disekitar saya mendukung atas apa yang menjadi tujuan saya, maka saya akan merasa termotivasi. Namun sebaliknya, saat mendengar celotehan, konflik, kata-kata dengan nada tinggi, saya merasa putus asa, alih-alih memikirkan masa depan saya, pikiran saya menjadi teralihkan untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.

Hidup bukanlah sebuah VCD player



Mungkin kisah ini mempunyai kemiripan dengan kisah-kisah lain, tetapi dari kisah ini semoga bisa diambil hikmah bagi kita semua. Silahkan menikmati.


Cerita ini katanya adalah “kisah nyata” yang pernah terjadi di Amerika.
Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman. Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke rumah sakit. Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yang hancur tersebut, tetapi ia tetap gagal. Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, “Papa, aku minta maaf tentang trukmu.” Kemudian, ia bertanya, “Tetapi kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?” Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.
Renungkan cerita di atas!

Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai. Truk dapat diperbaiki. Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki.
Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya. Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya.

Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan ada waktu untuk mencintainya
Waktu tidak dapat kembali….

Hidup bukanlah sebuah VCD PLAYER, yang dapat di-Backward dan Forward…

Yuk, Kita Berjilbab...


Berjilbab..




“Dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, mereka tak pernah disentuh seorang manusia atau jin pun sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 56)
Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga. Yaitu menundukkan pandangan, tak pernah disentuh oleh yang bukan mahramnya, yang senantiasa dirumah untuk menjaga kehormatan diri. Wanita inilah merupakan perhiasan yang amatlah berharga.

Keistimewaan Wanita Dalam Islam


  
 
  1. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang soleh.
  2. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah S.W.T. dan orang yang takutkan Allah S.W.T. akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
  3. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah.

Tentang Shadaqah

Shadaqah adalah baik seluruhnya, namun antara satu dengan yang lain berbeda keutamaan dan nilainya, tergantung kondisi orang yang bersedekah dan kepentingan proyek atau sasaran shadaqah tersebut. Di antara shadaqah yang utama menurut Islam adalah sebagai berikut:






1. Shadaqah Sirriyah

Yaitu shadaqah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Shadaqah ini sangat utama karena lebih medekati ikhlas dan selamat dari sifat pamer. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:271)

Hidup Bertetangga




Tetangga merupakan orang yang sangat dekat dalam keseharian kita. Jika kita keluar rumah, maka tetangga-lah yang kita temui pertama kali. Saat kita membutuhkan bantuan, tetangga-lah yang pertama kali kita datangi pintu rumahnya. Sangat tidak mungkin bagi kita untuk hidup tanpa tetangga. Sungguh tetangga sangatlah penting artinya dalam kehidupan kita hingga Allah memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga.

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian…” (Qs. An-Nisa’: 36)
Copyright 2009 selhye_zirra. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates
Efek Blog